Akhir-akhir ini masalah
sumber daya manusia dan ketenagakerjaan di Indonesia kembali menjadi topik
hangat dibeberapa media. Hubungan antara pengusaha dan karyawan tidak terjalin
sebagaimana mestinya, sehingga sering kali memicu konflik yang rumit dan hampir
tidak terselesaikan. Pemerintah yang seharusnya menjadi penengah dua kubu
tersebut juga tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Hampir tidak ada
upaya saling memahami satu sama lainnya ketika mereka dipertemukan dalam forum.
Apa yang sebenarnya menyebabkan itu terjadi dan apa solusi yang dapat
menyelesaikan permasalahan tersebut?
Tentunya ada banyak
faktor yang menyebabkan dan tersedia berbagai macam solusi yang dapat
ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun yang perlu
ditekankan adalah bagaimana memastikan solusi yang dipilih telah berjalan
sesuai dengan yang diharapkan. Dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas
bagaimana mengembangkan sumber daya manusia berbasis kecerdasan spiritual dan
mungkinkan menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan kekinian dari sumber
daya manusia di Indonesia.
Apa ituSumber daya manusia? Sumber daya manusia (SDM)
didefinisikan sebagai keseluruhan orang-orang dalam organisasi yang memberikan
kontribusi terhadap jalannya organisasi. Sebagai sumber daya utama organisasi,
perhatian penuh terhadap sumber daya manusia harus diberikan terutama dalam
kondisi lingkungan yang serba tidak pasti. Selain itu perlu diperhatikan pula
bahwa penempatan pegawai yang tepat tidak selalu menyebabkan keberhasilan.
Kondisi lingkungan yang cenderung berubah dan perencanaan karir dalam
organisasi mengharuskan organisasi terus-menerus melakukan penyesuaian.
Pengembangan sumber daya
manusia meliputi aktivitas-aktivitas yang diarahkan terhadap pembelajaran
organisasi maupun individual. Pengembangan sumber daya manusia terwujud dalam
aktivitas-aktivitas yang ditujukan untuk merubah perilaku organisasi.
Pengembangan sumber daya manusia menunjukan suatu upaya yang disengaja dengan
tujuan mengubah perilaku anggota organisasi atau paling tidak meningkatkan
kemampuan untuk berubah. Jadi ciri utama pengembangan sumber daya manusia
adalah aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada perubahan perilaku.
A.
Pengembangan
Sumber Daya Manusia
Armstrong (1997:507) berpendapat pengembangan SDM berkaitan
dengan tersedianya kesempatan dan pengembangan belajar, membuat program-program
training yang meliputi perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi atas
program-program tersebut. McLagan dan Suhadolnik (Wilson, 1999:10) mengatakan pengembangan
SDM adalah pemanfaatan pelatihan, pengembangan karir, dan pengembangan
organisasi, yang terintegrasi antara satu dengan yang lain, untuk meningkatkan efektivitas
individual dan organisasi. Sedangkan Harris and DeSimone (1999:2) mengatakan pengembangan
SDM dapat didefinisikan sebagai seperangkat aktivitas yang sistematis dan
terencana yang dirancang oleh organisasi dalam memfasilitasi para karyawannya
dengan kecakapan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, baik pada
saat ini maupun masa yang akan datang.
Ada begitu banyak pengertian pengembangan SDM, namun dari
pengertian-pengertian tersebut dapat dirangkum bahwa pengembangan SDM adalah
segala aktivitas yang dilakukan oleh organisasi dalam memfasilitasi karyawannya
agar memiliki pengetahuan, keahlian, dan/atau sikap yang dibutuhkan dalam
menangani pekerjaan saat ini atau yang akan datang. Aktivitas yang dimaksud,
tidak hanya pada aspek pendidikan dan pelatihan saja, akan tetapi menyangkut
aspek karir dan pengembangan organisasi. Ini artinya pengembangan SDM berkaitan
erat dengan upaya meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan/atau sikap anggota
organisasi serta penyediaan jalur karir yang didukung oleh fleksibilitas
organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuan pengembangan sumber daya
manusia adalah untuk memastikan bahwa organisasi mempunyai orang-orang yang
berkualitas untuk mencapai tujuan organisasi untuk meningkatkan kinerja dan
pertumbuhan (Armstong, 1997:507).
B.
Pengertian
Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
Apa itu Spiritual Quotient? Menurut penemu teori Spiritual
Quotient seorang perempuan berbangsa Yahudi bernama Danah Zohar,
inteligensi manusia itu terdiri atas tiga macam, yakni:
1. Intelligence Quotient (IQ), yaitu
tatanan syaraf yang memungkinkan orang berpikir logis dan kritis. Inilah yang
disebut kecerdasan kognitif
2. Emotional Quotient (EQ), yaitu tatanan
syaraf yang memungkinkan orang berpikir dan berkebiasaan dengan pola emosi
tertentu. Kecerdasan ini hamper bisa dipastikan merupakan bagian dari
kecerdasan afektif
3. Spiritual Quotient (SQ), yaitu tatanan
syaraf yang memungkinkan orang berpikir dengan pengertian yang mendalam dan
bijaksana. Inilah yang menurut Zohar disebut kecerdasan spiritual.
SQ sebagai kecerdasan
untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kaya dan mendalam.
Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ menjadi landasan yang diperlukan
untuk memfungsikan dan mensinergikan IQ dan EQ secara integral, efektif dan
menyeluruh. Kecerdasan spiritual menyadarkan kita akan tujuan hidup dan
pemaknaan kehidupan yang kita jalani. Bahwa hidup memiliki arah dan tujuan
hidup, bahwa setiap kehidupan memiliki pemaknaan yang tidak sekedar makna-makna
bersifat duniawi.
Sehingga orang perlu
memiliki makna dan nilai dalam kehidupan mereka dan bekerja. Misalnya untuk
melakukan sesuatu yang membuat perbedaan positif bagi kesejahteraan orang lain.
Makna dan nilai sangat bergantung pada keyakinan dan nilai-nilai yang mendasari
pikiran kita, yang pada gilirannya nanti akan mendorong perilaku kita. Jadi
tingkat terdalam dari kecerdasan adalah SQ yang tidak ada hubungan langsung
dengan agama atau system kepercayaan. SQ adalah proses wawasan pribadi dan
pengalaman, bukan paket keyakinan (Abhilasha, 2012:257).
C.
Pengembangan
Sumber Daya Manusia Berbasis Kecerdasan Spiritual
Kemajuan suatu organisasi
sangat tergantung pada bagaimana orang-orang yang ada dalam organisasi
tersebut. Sarana prasarana, sistem, dan keuangan yang baik akan tidak memiliki
arti lagi jika orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut memiliki
kompetensi dan komitmen yang rendah. Hal inilah yang masih sering terjadi pada
SDM di Indonesia sehingga memicu konflik seperti apa yang sering terjadi
sekarang. Peningkatan kempetensi dapat dilakukan dengan mudah dengan melalui
kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kompetensi
tersebut, namun bagaimana dengan meningkatkan komitmetn karyawan tentu
dibutuhkan lebih banyak hal lagi.
Rendahnya komitmen dapat
disebabkan oleh banyak hal, tetapi seringkali secara potensial terjadi karena
orang-orang di dalam organisasi tidak tahu apa yang dapat diperolehnya dengan
pekerjaannya itu selain hanya sekedar uang, orang menjadi tidak berbahagia
dengan pekerjaannya, kemudian menjadi bosan, apatis, dan pada akhirnya menjadi
tidak produktif. Dalam pekerjaannya seharusnya seorang karyawan mampu memaknai
pekerjaannya, sehingga karyawan tersebut menjadi berbahagia, sehat hidupnya dan
pada akhirnya tidak hanya menjadi produktif, tetapi juga dapat melahirkan
berbagai ide yang inovatif. Ini merupakan gambaran seorang karyawan yang telah
memiliki kercerdasan spiritual dimana sesuai dengan perngertian SQ yang telah
dijelaskan diatas.
Untuk mencapai tujuan
tersebut akan timbul pertanyaan bagaimana mengembangkan SDM berbasis pada
Kecerdasan Spiritual. SQ adalah sesuatu yang setiap orang memiliki tetapi hanya
sedikit yang belajar untuk mengembangkannya. Pengembangan SQ adalah bangkitnya
kesadaran yang lebih dalam dari diri sesorang bukan berupa materi, melainkan
sumber munculnya berbagai bakat yang tidak terlihat sebelumnya. Pengembangan
SDM dapat dilakukan dengan program-program pelatihan baik secara teori dan
praktek. Program pelatihan dalam pengembangan SQ dapat mengandung materi dari
beberapa komponen dibawah ini:
- Memahami
indentitas diri (Who am i?)
Identitas
adalah takdir atau pemberian. Bagaimana seseorang melihat dirinya dalam
membentuk pikirannya, keputusan-keputusan dan arah hidupnya. Sebagian besar
dari orang-orang tidak bernar-benar menyadari indentitas sejati mereka dan
mereka mendapati diri mereka beralih identitas tergantung pada situasi
lingkungan. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis identitas dimana berusaha
menyamarkan identitas asli mereka.
Mengetahui diri sendiri bukan berarti memanjakan diri, namun penting
untuk menghilangkan ilusi dan kebingungan yang membawa kita ke jalan yang
salah.
- Memahami makna
diri (What am i?)
SQ
mengungkapkan sifat inti dari setiap manusia sebagai sesuatu yang baik. Setiap
orang memiliki pontensi sebagai sumber kasih saying, kedamaian dan sukacita.
Potensi ini sering kali diblokir atau di terdistorsi oleh kesalahan dalam
memahami makna diri dan pemahaman yang salah tentang alas an hidup. Nilai-nilai
tertinggi kita memiliki akar inti yang merupakan sifat sejati kita.
- Self Response (
How do I work?)
Sebagai
makhlik sadar yang sadar bahwa ia sadar dan sadar, ia belajar sedikit dalam
arti formal tentang bagaimana dia bekerja dalam kesadarannya. Diri adalah jiwa
adalah roh sadar dan itu merupakan suatu kesadaran. Kesadaran dapat secara
bertahap menguasai pikiran, kecerdasan, ciri kepribadian atau kecendrungan dan
hati nurani. Kasih sayang merupakan nilai spiritual yang merupakan dasar dari
tindakan bijak ketika dinyatakan dalam bentuk empati dan kasih sayang yang
keduanya penting dalam membangun hubungan.
- Self Resonance
(Where am i?)
Bagaimana
seseorang dapat memahami dan menjelaskan dimana dirinya berada.
- Self Truth (How
does it all work?)
Jauh
didalam diri seseorang ada kesadaran apa yang menjadi suatu kebenaran.
Kebedaran tidak pernah berubah dan dari kebenaran datang hokum-hukum kehidupan,
moral, hak, kesalahan, dan prinsip kehidupan yang seimbang dan harmonis dapa
diciptakan dan dipertahankan. Hukum spiritual tidak perna dapat dipatahkan,
namun kita selalu berusaha untuk mematahkannya yang merupakan kebuntuan dari
kecerdasan spiritual kita.
- Tujuan Diri
Menyadari
dan menghidupkan tujan pribadi kita untuk menciptakan salah satu dimensi
terdalam dari kehidupan yang bermakna. Yang dapat menjadi salah satu motivator
terdalam bagi setiap orang. Setiap orang memiliki tujuan yang unik berdasarkan
kombinasi unik dari bakat dan ketrampilan. Tujuan diri sebenarnya tidak pernah
ditentukan oleh orang lain. Tujuan adalah sesuatu yang disetel dan
diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
- Kreativitas diri
(What happens next?)
Kreativitas
akan selalu menjadi aspek kunci untuk tujuan mendasar pribadi dan tujuan
kolektif seseorang. Tapi buat apa, dan dimana dan mengapa dan kapan? Semua
pertanyaan itu hanya dapat dijawab oleh individunya masing-masing. Dari jawaban
tersebut orang akan tahu mengapa dia berada disuatu tempat kerja, apa yang
seharusnya dia buat dan apa perannya dalam organisasi.
Ketujuh komponen tersebut diatas dapat ditanamkan kepada karyawan secara
bertahap dan intensitas yang tinggi demi mewujud tujuan pengambangan SDM yang
memiliki kecerdasan spiritual. Tentu dalam penerapannya tidak akan semudah
membalikan telapak tangan kita sendiri, karena kita harus membalikan telapak
tangan orang lain yang masing-masing memilik nilai yang berbeda-beda. Namun
jika tujuan yang mulia ini dapat terwujud niscaya akan dapat mengurang konflik
ketenagakerjaan yang sedang terjadi di Indoseia. Tentunya masih banyak solusi
dan cara pengembangan SDM namun pastikanlan bahwa solusi dan metode tersebut
telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.sharing aja tugas kuliah MSDM saya. :)
Komentar
Posting Komentar