BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Globalisasi adalah sebuah hal yang tidak dapat
dihindarkan oleh pihak manapun. Dengan adanya globalisasi yang didukung oleh
kemajuan teknologi yang sangat pesat, akan tercipta sebuah “dunia baru” yang
lebih baik di mana jarak bukanlah menjadi sebuah masalah yang berarti. Dampak
dari terbentuknya dunia baru ini adalah pemekaran pasar dengan persaingan yang
sangat ketat dari perusahaan-perusahaan lain baik lokal maupun perusahaan
asing.
Persaingan
yang sangat ketat ini memaksa perusahaan untuk menjadi yang paling baik dari
yang terbaik untuk dapat bertahan di era globalisasi ini. Salah satu cara yang
dapat ditempuh oleh perusahaan untuk dapat menjadi yang terbaik adalah dengan memiliki corporate strategy yang baik
sehingga dapat memperoleh competitive advantage. Heizer & Render (2005: 29)
mengatakan bahwa “Competitive advantage
implies the creation of a system that has a unique advantage over competitors.
The Idea is to create customer value in an efficient and sustainable way”,
sehingga dapat diartikan dalam membangun Competitive
advantage atau yang biasa dikenal dengan keunggulan bersaing, perusahaan
disarankan untuk membentuk sebuah sistem yang unik dan memiliki keunggulan
dibandingkan dengan pesaing yang intinya adalah memberikan nilai yang baik bagi
konsumen dengan efisien dan dapat dipertahankan.
Rumah Komputer (Ruter) yang berdiri pada tanggal 9
september 2009 dengan usaha ritel perangkat teknologi informasi diantaranya
komputer, laptop, gadget, aksesoris, perangkat jaringan dan lain-lain membuka
toko di RTC Gatsu jalan Gatot Subroto Denpasar. Setelah hampir 3 tahun Ruter
akhirnya memutuskan untuk menutup toko tersebut dengan alasan permasalahan RTC
Gatsu masih sangat sepi pengunjung, sehingga minim penjualan yang terjadi. Hal
ini menyebabkan Ruter tidak mampu lagi menutupi biaya-biaya operasional yang
harus dikeluarkan seperti biaya sewa toko, gaji karyawan, dan juga modal untuk
pembelian barang yang harus terus up to
date sudah menipis. Persediaan barang dagangan banyak karena perkembangan
perangkat teknologi berkembang sangat pesat dan pembelian persediaan yang
kurang diperhitungkan membuat pesediaan barang cepat out of date yang menjadi indikator lain penjualan semakin memburuk.
Biaya sewa toko yang mahal berbanding terbalik dengan persaingan yang kurang
kondusif dimana harus mampu menjual lebih murah karena toko lain diam-diam
saling banting harga demi mendapatkan pembeli.
Pada September 2012 Ruter mencoba bangkit dengan
kembali membuka toko namun bukan toko fisik melainkan toko secara online dengan
alamat www.rumahkomputer.com. Ruter sekarang memiliki salah satu visi mampu
memberikan solusi perangkat teknologi informasi (TI) yang paling murah dan
cepat di Bali. Dengan konsep toko online Ruter mampu menawarkan harga yang jauh
lebih murah karena biaya operasional dapat ditekan secara signifikan, bahkan
biaya sewa toko yang dulunya mahal hampir tidak ada, karena pada toko online
hanya diperlukan biaya alamat domain dan hosting dari website toko online yang
dibangun. Masalah biaya sewa toko yang mahal memang dapat teratasi, namun tidak
dengan permasalahan persediaan. Barang yang tawarkan belum tentu ada dalam
persediaan dan sebaliknya barang dalam pesediaan belum tentu dipesan pengunjung
web. Sering kali terjadi barang yang dipesan tidak ada dalam persediaan, dan
ketika mencoba menghubungi pemasok ternyata barang tersebut juga lagi kosong.
Sehingga menyebabkan pengunjung toko online atau calon pembeli kecewa dan
menimbulkan cetra negatif bagi Ruter sendiri.
Untuk
membantu Ruter mencari solusi dalam memecahkan permasalahan persediaannya, maka
dibutuhkan model inventory management yang
harus diterapkan. Penulis mencoba menawarkan solusi penerapan Model Just In Time (JIT). Dalam penerapannya
nanti diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat, murah, dan
jaminan atas ketersediaan barang yang diinginkan pengunjung toko online.
1.2
Perumusan Masalah
Dari
apa yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah
“Bagaimana menerapkan JIT dalam mengelola persediaan pada toko online
rumahkomputer.com”
BAB II
LANDASAN TEORI
& PEMBAHASAN
2.1
Landasan Teori
2.1.1
Just In Time
Apa itu Just
In Time (JIT)? Just In Time adalah sebuah filosofi manajemen yang berasal dari Jepang yang telah
diaplikasikan secara nyata sejak awal tahun 1970 pada perusahaan manufaktur di
Jepang. Pada awalnya di Toyota Motor, Taichii Ono dan tangan kanannya Shigeo
Shingo mengadaptasi strategi Henry Ford yang disesuaikan dengan etos kerja
masyarakat Jepang sehingga lahirlah sebuah filosofi yang disebut sebagai Just In Time. Terdapat banyak definisi
JIT yang diungkapkan oleh para ahli, antara lain menurut Russell dan Taylor
(2006: 685) “Just In Time is a concept
minimizing inventory and smoothing the flow of materials so that material
arrived just as it was needed”
sehingga JIT dapat diartikan sebagai sebuah konsep meminimalkan jumlah
persediaan dan memastikan kelancaran aliran bahan baku sehingga sampai tepat
ketika dibutuhkan.
Senada
dengan Russell dan Taylor, Meredith (1992: 549) mengatakan “The basic idea behind JIT is to make goods
flow like water through the shop and not build up, or arrive eiither early or
late.” Sedangkan menurut Zhu dan Meredith (1995), mengatakan bahwa “JIT defined as an approach to achieving
excellence in a manufacturing company based on countinuing elimination of waste
and consitent improvement in productivity.” yang dapat diartikan sebagai
sebuah pendekatan untuk mencapai tingkat yang paling baik pada perusahaan
manufaktur yang berdasarkan pada pengurangan waste secara terus menerus dan konsisten dalam meningkatkan
produktivitas. Pendapat Zhu dan Meredith ini didukung oleh Heizer dan Render
(2005: 470) yang mengetakan “Just In Time
is a Philosophy of countinious and forced problems solving that drives out
waste” pendapat Heizer dan Render
ini dapat memberikan gambaran yang senada bahwa JIT adalah sebuah filosofi
mengenai pemecahan masalah yang terus menerus yang akan menghilangkan waste.
Pendapat dari Heizer dan Render diperkuat oleh definisi yang dipaparkan oleh
service.eliteral.com. Pendapat para ahli dan web site di atas kemudian
terangkum dalam definisi yang dicantumkan pada accuracybook.com. Sedangkan
www.ifm.eng.ac.uk mendefinisikan JIT sebagai sebuah filosofi dalam produksi
barang yang memenuhi customer demand (termasuk di dalamnya eksternal customer
dan internal customer) tepat pada waktunya, tepat kualitas, dan tepat jumlah.
2.1.2
Toko Online
(E-Commerce)
Apa itu e-commerce? E-commerce
merupakan bagaian dari E-business dimana
bisnis yang dilakukan dengan menggunakan electronic transmission. E-commerce adalah kegiatan- kegiatan
bisnis yang menyangkut konsumen (consumers),
manufaktur, service providers dan
pedagang perantara (intermediaries)
dengan menggunakan jaringan-jaringan komputer yaitu internet. Jualang Ding
dalam bukunya E-commerce: Law & Practice, Mengemukakan bahwa e-commerce sebagai suatu konsep yang
tidak dapat didefinisikan. E-commerce
memiliki arti yang berbeda bagi orang yang berbeda.
Sedangkan Onno W. Purbo
dan Aang Wahyudi yang mengutip pendapat David Baum, menyebutkan “E-commerce is a dynamic set of technologies,
aplications, and business procces that link enterprises, consumers, and
communities through electronic transaction and electronic exchange of goods,
sevices, and informations” bahwa e-commerce
suatu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan
perusahaan, konsumen dan komunitas melalui transaksi elektronik dan perdagangan
barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik. E-commerce digunakan sebagai transaksi
bisnis amtara perusahaan yang satu dengan yang lain, antar perusahaan dengan
pelanggan, atau antara perusahaan dengan institusi yang bergerak dalam pelayanan
public.
2.2
Analisis
Permasalahan utama yang
dihadapi oleh Ruter adalah tidak pengelolaan persediaan barang yang baik
sehingga sering kali membuat calon pembeli kecewa dan tidak puas dengan
pelayanan yang diberikan. Pengelolaan persediaan kurang baik juga menyebabkan
Ruter tidak dapat menekan biaya-biaya yang berdampak Ruter tidak mampu
menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan pesaing. Perkembangan barang
dagangan teknologi dewasa ini juga berkempang sangat pesat, membuat penurunan
nilai barang lebih singkat. Semakin lama barang dalam persediaan menunggu untuk
laku terjual, nilainya akan semakin turun. Dalam penerapan JIT pada toko online
dapat dilihat dari dua sisi hubungan, yaitu dari sisi hubungan antara Ruter
dengan supplier (Pemasok) dan hubungan antara Ruter dengan pelanggan.
1. 1. Rumah Komputer
dengan Pemasok
Rumah Komputer disarankan mengutamakan menjalin
kerja sama dengan pemasok yang berada dekat dengan gudang atau kantor toko
online. Hal ini bertujuan mengurangi waktu pengiriman barang dan biaya yang
dibutuhkan apalagi jika pemasok memberikan pelayanan mengantarkan ke kantor
Ruter. Ruter juga sebaiknya mampu bekerja sama dengan pemasok jika barang yang
dipesan ke pemasok berdasarkan pesanan dari pelanggan. Dimana barang tersebut bisa
langsung diserahkan ke pelanggan tanpa perlu campur tangan Ruter terlebih
dahulu seperti perakitan dan instalasi bisa dikirim langsung kepada
pelanggan tanpa harus dikirim dulu ke
gudang Ruter. Dengan catatan telah melakukan kerja sama dengan pemasok bahwa
label pengirim barang diisikan dikirim oleh Rumah Komputer.
Dengan cara seperti ini terntu akan dapat menghemat
biaya pengirim barang. Sedangkan untuk sistem pembayaran jika pelanggan memilih
pembayaran transfer via bank, maka barang akan dikirim jika pembayaran sudah
diterima oleh pihat Ruter. Setelah barang diantarkan ke palanggan oleh pemasok,
ruter mengirimkan pembayaran ke pemasok sesuai harga reseller yang telah
disepakati. Sedangkan jika pelanggan memilih pembayaran cash on delivery (COD) otomatis yang menerima pembayarn dari
pelanggan adalah pemasok, maka pemasok wajib memberikan pembayaran ke ruter
sesuai selisih harga yang dijual kepada pelanggan dengan harga reseller.
2. 2. Rumah Komputer
dengan Pelanggan
Dalam hubungan dengan palanggan, toko online yang
menjadi basis penjualan harus mampu memberikan jaminan ketersediaan barang yang
dipajang di website dengan deskripsi barang yang jelas dan tentunya harga yang lebih kompetitif.
Sehingga setiap hari harus dilakukan pengecekan update harga dan persediaan
barang dari pemasok. Barang yang dikirim ke pelanggan juga harus sesuai dengan
yang dijanjikan. Jika dijanjikan 1-2 hari kerja sampai maka itu harus
diwujudkan atau pelanggan akan kecewa dan kapok. Ruter juga diharapkan dapat mengoptimalkan
penjualan dengan lokasi pelanggan yang terjangkau oleh pemasok dan Ruter
sebelum menyasar pasar yang lebih luas. Ruter juga sebaiknya melakukan
pengecekan terhadap harga yang ditawarkan para kompetitor untuk mamastikan
harga yang Ruter tawarkan mampu bersaing bahkan lebih murah. Perkembangan
perangakat teknologi juga harus diketahui lebih cepat dari pesaing dan
pelanggan dan menemukan distributor atau pemasoknya. Bisa juga dengan mendesak
pemasok yang telah bekerja sama dengan kita untuk segera memiliki barang
tersebut.
Apabila kedua
pendekatan hubungan dalam penerapan JIT diatas dapat diterapkan, maka akan
mendekatkan Ruter dengan visinya, yaitu mampu memberikan solusi perangkat
teknologi informasi (TI) yang paling murah dan cepat di Bali. Namun dalam
penerapan tersebut tidak akan segampang apa yang dijabarkan. Dibutuhkan kerja
keras dan konsisten dari pihak Ruter dan juga pemasok untuk memastikan konsep
dapat berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat
diambil berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, maka penerapan model JIT
pada toko online Rumah Komputer (Ruter) dapat menekan pengeluaran biaya
pengiriman baik pengirim dari pemasok maupun pengiriman kepada pelanggan.
Menekan biaya pesediaan sehingga ruter dapat menawarkan harga kepada pelanggan
dengan lebih murah. Dengan menerapkan JIT juga dapat memberikan pelayanan lebih
cepat kepada dalam hal pengiriman barang pesanan pelanggan.
Komentar
Posting Komentar