12 Des 2012

Megembangkan Sumber Daya Manusia Berbasis Kecerdasan Spiritual

7:11 PM


Akhir-akhir ini masalah sumber daya manusia dan ketenagakerjaan di Indonesia kembali menjadi topik hangat dibeberapa media. Hubungan antara pengusaha dan karyawan tidak terjalin sebagaimana mestinya, sehingga sering kali memicu konflik yang rumit dan hampir tidak terselesaikan. Pemerintah yang seharusnya menjadi penengah dua kubu tersebut juga tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Hampir tidak ada upaya saling memahami satu sama lainnya ketika mereka dipertemukan dalam forum. Apa yang sebenarnya menyebabkan itu terjadi dan apa solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut?
Tentunya ada banyak faktor yang menyebabkan dan tersedia berbagai macam solusi yang dapat ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun yang perlu ditekankan adalah bagaimana memastikan solusi yang dipilih telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas bagaimana mengembangkan sumber daya manusia berbasis kecerdasan spiritual dan mungkinkan menjadi solusi dalam menyelesaikan permasalahan kekinian dari sumber daya manusia di Indonesia.
Apa ituSumber daya manusia? Sumber daya manusia (SDM) didefinisikan sebagai keseluruhan orang-orang dalam organisasi yang memberikan kontribusi terhadap jalannya organisasi. Sebagai sumber daya utama organisasi, perhatian penuh terhadap sumber daya manusia harus diberikan terutama dalam kondisi lingkungan yang serba tidak pasti. Selain itu perlu diperhatikan pula bahwa penempatan pegawai yang tepat tidak selalu menyebabkan keberhasilan. Kondisi lingkungan yang cenderung berubah dan perencanaan karir dalam organisasi mengharuskan organisasi terus-menerus melakukan penyesuaian.
Pengembangan sumber daya manusia meliputi aktivitas-aktivitas yang diarahkan terhadap pembelajaran organisasi maupun individual. Pengembangan sumber daya manusia terwujud dalam aktivitas-aktivitas yang ditujukan untuk merubah perilaku organisasi. Pengembangan sumber daya manusia menunjukan suatu upaya yang disengaja dengan tujuan mengubah perilaku anggota organisasi atau paling tidak meningkatkan kemampuan untuk berubah. Jadi ciri utama pengembangan sumber daya manusia adalah aktivitas-aktivitas yang diarahkan pada perubahan perilaku.

A.    Pengembangan Sumber Daya Manusia
Armstrong (1997:507) berpendapat pengembangan SDM berkaitan dengan tersedianya kesempatan dan pengembangan belajar, membuat program-program training yang meliputi perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi atas program-program tersebut. McLagan dan Suhadolnik (Wilson, 1999:10) mengatakan pengembangan SDM adalah pemanfaatan pelatihan, pengembangan karir, dan pengembangan organisasi, yang terintegrasi antara satu dengan yang lain, untuk meningkatkan efektivitas individual dan organisasi. Sedangkan Harris and DeSimone (1999:2) mengatakan pengembangan SDM dapat didefinisikan sebagai seperangkat aktivitas yang sistematis dan terencana yang dirancang oleh organisasi dalam memfasilitasi para karyawannya dengan kecakapan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, baik pada saat ini maupun masa yang akan datang.
Ada begitu banyak pengertian pengembangan SDM, namun dari pengertian-pengertian tersebut dapat dirangkum bahwa pengembangan SDM adalah segala aktivitas yang dilakukan oleh organisasi dalam memfasilitasi karyawannya agar memiliki pengetahuan, keahlian, dan/atau sikap yang dibutuhkan dalam menangani pekerjaan saat ini atau yang akan datang. Aktivitas yang dimaksud, tidak hanya pada aspek pendidikan dan pelatihan saja, akan tetapi menyangkut aspek karir dan pengembangan organisasi. Ini artinya pengembangan SDM berkaitan erat dengan upaya meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan/atau sikap anggota organisasi serta penyediaan jalur karir yang didukung oleh fleksibilitas organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Tujuan pengembangan sumber daya manusia adalah untuk memastikan bahwa organisasi mempunyai orang-orang yang berkualitas untuk mencapai tujuan organisasi untuk meningkatkan kinerja dan pertumbuhan (Armstong, 1997:507).

B.     Pengertian Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
Apa itu Spiritual Quotient? Menurut penemu teori Spiritual Quotient seorang perempuan berbangsa Yahudi bernama Danah Zohar, inteligensi manusia itu terdiri atas tiga macam, yakni:
1.      Intelligence Quotient (IQ), yaitu tatanan syaraf yang memungkinkan orang berpikir logis dan kritis. Inilah yang disebut kecerdasan kognitif
2.      Emotional Quotient (EQ), yaitu tatanan syaraf yang memungkinkan orang berpikir dan berkebiasaan dengan pola emosi tertentu. Kecerdasan ini hamper bisa dipastikan merupakan bagian dari kecerdasan afektif
3.      Spiritual Quotient (SQ), yaitu tatanan syaraf yang memungkinkan orang berpikir dengan pengertian yang mendalam dan bijaksana. Inilah yang menurut Zohar disebut kecerdasan spiritual.
SQ sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas, kaya dan mendalam. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ menjadi landasan yang diperlukan untuk memfungsikan dan mensinergikan IQ dan EQ secara integral, efektif dan menyeluruh. Kecerdasan spiritual menyadarkan kita akan tujuan hidup dan pemaknaan kehidupan yang kita jalani. Bahwa hidup memiliki arah dan tujuan hidup, bahwa setiap kehidupan memiliki pemaknaan yang tidak sekedar makna-makna bersifat duniawi.
Sehingga orang perlu memiliki makna dan nilai dalam kehidupan mereka dan bekerja. Misalnya untuk melakukan sesuatu yang membuat perbedaan positif bagi kesejahteraan orang lain. Makna dan nilai sangat bergantung pada keyakinan dan nilai-nilai yang mendasari pikiran kita, yang pada gilirannya nanti akan mendorong perilaku kita. Jadi tingkat terdalam dari kecerdasan adalah SQ yang tidak ada hubungan langsung dengan agama atau system kepercayaan. SQ adalah proses wawasan pribadi dan pengalaman, bukan paket keyakinan (Abhilasha, 2012:257).

C.    Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis Kecerdasan Spiritual
Kemajuan suatu organisasi sangat tergantung pada bagaimana orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Sarana prasarana, sistem, dan keuangan yang baik akan tidak memiliki arti lagi jika orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut memiliki kompetensi dan komitmen yang rendah. Hal inilah yang masih sering terjadi pada SDM di Indonesia sehingga memicu konflik seperti apa yang sering terjadi sekarang. Peningkatan kempetensi dapat dilakukan dengan mudah dengan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kompetensi tersebut, namun bagaimana dengan meningkatkan komitmetn karyawan tentu dibutuhkan lebih banyak hal lagi.
Rendahnya komitmen dapat disebabkan oleh banyak hal, tetapi seringkali secara potensial terjadi karena orang-orang di dalam organisasi tidak tahu apa yang dapat diperolehnya dengan pekerjaannya itu selain hanya sekedar uang, orang menjadi tidak berbahagia dengan pekerjaannya, kemudian menjadi bosan, apatis, dan pada akhirnya menjadi tidak produktif. Dalam pekerjaannya seharusnya seorang karyawan mampu memaknai pekerjaannya, sehingga karyawan tersebut menjadi berbahagia, sehat hidupnya dan pada akhirnya tidak hanya menjadi produktif, tetapi juga dapat melahirkan berbagai ide yang inovatif. Ini merupakan gambaran seorang karyawan yang telah memiliki kercerdasan spiritual dimana sesuai dengan perngertian SQ yang telah dijelaskan diatas.
Untuk mencapai tujuan tersebut akan timbul pertanyaan bagaimana mengembangkan SDM berbasis pada Kecerdasan Spiritual. SQ adalah sesuatu yang setiap orang memiliki tetapi hanya sedikit yang belajar untuk mengembangkannya. Pengembangan SQ adalah bangkitnya kesadaran yang lebih dalam dari diri sesorang bukan berupa materi, melainkan sumber munculnya berbagai bakat yang tidak terlihat sebelumnya. Pengembangan SDM dapat dilakukan dengan program-program pelatihan baik secara teori dan praktek. Program pelatihan dalam pengembangan SQ dapat mengandung materi dari beberapa komponen dibawah ini:
  1. Memahami indentitas diri (Who am i?)
Identitas adalah takdir atau pemberian. Bagaimana seseorang melihat dirinya dalam membentuk pikirannya, keputusan-keputusan dan arah hidupnya. Sebagian besar dari orang-orang tidak bernar-benar menyadari indentitas sejati mereka dan mereka mendapati diri mereka beralih identitas tergantung pada situasi lingkungan. Hal ini menyebabkan terjadinya krisis identitas dimana berusaha menyamarkan identitas asli mereka.  Mengetahui diri sendiri bukan berarti memanjakan diri, namun penting untuk menghilangkan ilusi dan kebingungan yang membawa kita ke jalan yang salah.
  1. Memahami makna diri (What am i?)
SQ mengungkapkan sifat inti dari setiap manusia sebagai sesuatu yang baik. Setiap orang memiliki pontensi sebagai sumber kasih saying, kedamaian dan sukacita. Potensi ini sering kali diblokir atau di terdistorsi oleh kesalahan dalam memahami makna diri dan pemahaman yang salah tentang alas an hidup. Nilai-nilai tertinggi kita memiliki akar inti yang merupakan sifat sejati kita.
  1. Self Response ( How do I work?)
Sebagai makhlik sadar yang sadar bahwa ia sadar dan sadar, ia belajar sedikit dalam arti formal tentang bagaimana dia bekerja dalam kesadarannya. Diri adalah jiwa adalah roh sadar dan itu merupakan suatu kesadaran. Kesadaran dapat secara bertahap menguasai pikiran, kecerdasan, ciri kepribadian atau kecendrungan dan hati nurani. Kasih sayang merupakan nilai spiritual yang merupakan dasar dari tindakan bijak ketika dinyatakan dalam bentuk empati dan kasih sayang yang keduanya penting dalam membangun hubungan.
  1. Self Resonance (Where am i?)
Bagaimana seseorang dapat memahami dan menjelaskan dimana dirinya berada.
  1. Self Truth (How does it all work?)
Jauh didalam diri seseorang ada kesadaran apa yang menjadi suatu kebenaran. Kebedaran tidak pernah berubah dan dari kebenaran datang hokum-hukum kehidupan, moral, hak, kesalahan, dan prinsip kehidupan yang seimbang dan harmonis dapa diciptakan dan dipertahankan. Hukum spiritual tidak perna dapat dipatahkan, namun kita selalu berusaha untuk mematahkannya yang merupakan kebuntuan dari kecerdasan spiritual kita.
  1. Tujuan Diri
Menyadari dan menghidupkan tujan pribadi kita untuk menciptakan salah satu dimensi terdalam dari kehidupan yang bermakna. Yang dapat menjadi salah satu motivator terdalam bagi setiap orang. Setiap orang memiliki tujuan yang unik berdasarkan kombinasi unik dari bakat dan ketrampilan. Tujuan diri sebenarnya tidak pernah ditentukan oleh orang lain. Tujuan adalah sesuatu yang disetel dan diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Kreativitas diri (What happens next?)
Kreativitas akan selalu menjadi aspek kunci untuk tujuan mendasar pribadi dan tujuan kolektif seseorang. Tapi buat apa, dan dimana dan mengapa dan kapan? Semua pertanyaan itu hanya dapat dijawab oleh individunya masing-masing. Dari jawaban tersebut orang akan tahu mengapa dia berada disuatu tempat kerja, apa yang seharusnya dia buat dan apa perannya dalam organisasi.
                 Ketujuh komponen tersebut diatas dapat ditanamkan kepada karyawan secara bertahap dan intensitas yang tinggi demi mewujud tujuan pengambangan SDM yang memiliki kecerdasan spiritual. Tentu dalam penerapannya tidak akan semudah membalikan telapak tangan kita sendiri, karena kita harus membalikan telapak tangan orang lain yang masing-masing memilik nilai yang berbeda-beda. Namun jika tujuan yang mulia ini dapat terwujud niscaya akan dapat mengurang konflik ketenagakerjaan yang sedang terjadi di Indoseia. Tentunya masih banyak solusi dan cara pengembangan SDM namun pastikanlan bahwa solusi dan metode tersebut telah berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

sharing aja tugas kuliah MSDM saya.  :)

Written by

Bukan seorang pakar ataupun praktisi profesional, hanya ingin berbagai atas esensi realita perjalanan dan mimpi yang terlihat tak bertepi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2014 Dipzt. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top